Customer Journey – Pengertian, Tahapan, Contoh & Cara Membuat

 

Customer Journey, Pengertian, Tahapan, Contoh dan Cara Membuat

Customer journey merupakan salah satu konsep penting dalam digital marketing yang perlu dipahami oleh setiap bisnis. Pelanggan tidak selalu langsung membeli ketika pertama kali melihat sebuah produk atau jasa. Mereka biasanya melewati beberapa tahapan, mulai dari mengenal brand, mencari informasi, membandingkan pilihan, melakukan pembelian, hingga menjadi pelanggan loyal.

Dengan memahami customer journey, bisnis dapat mengetahui bagaimana calon pelanggan berinteraksi dengan brand, apa yang mereka butuhkan, masalah apa yang mereka hadapi, serta faktor apa yang membuat mereka akhirnya melakukan pembelian.

Artikel ini akan membahas secara lengkap pengertian customer journey, tahapan customer journey, contoh customer journey, customer journey map, hingga cara mengoptimalkan customer journey untuk meningkatkan penjualan.

Apa Itu Customer Journey?

Customer journey adalah rangkaian pengalaman dan interaksi yang dilalui pelanggan sejak pertama kali mengenal sebuah brand hingga melakukan pembelian dan menjadi pelanggan loyal.

Perjalanan pelanggan tersebut dapat terjadi melalui berbagai saluran, baik online maupun offline.

Contohnya:

  • Melihat konten Instagram
  • Menemukan website melalui Google
  • Membaca artikel blog
  • Melihat iklan digital
  • Membaca review pelanggan
  • Menghubungi WhatsApp
  • Berkomunikasi dengan sales
  • Melakukan pembelian
  • Menggunakan produk atau jasa
  • Mendapatkan layanan customer service
  • Memberikan testimonial
  • Merekomendasikan produk kepada orang lain

Setiap interaksi tersebut disebut touchpoint atau titik kontak antara pelanggan dengan bisnis.

Memahami customer journey membantu perusahaan melihat proses pembelian dari sudut pandang pelanggan, bukan hanya dari sudut pandang perusahaan.

Mengapa Customer Journey Penting bagi Bisnis?

Customer journey penting karena keputusan pembelian pelanggan tidak hanya ditentukan oleh produk atau harga.

Pengalaman pelanggan selama berinteraksi dengan brand juga sangat berpengaruh.

Misalnya, sebuah bisnis memiliki produk berkualitas dengan harga kompetitif. Namun, website sulit digunakan, informasi produk tidak jelas, customer service lambat merespons, dan proses pembelian terlalu rumit. Calon pelanggan tetap dapat memilih kompetitor. Karena itu, bisnis perlu memperhatikan seluruh perjalanan pelanggan. Beberapa manfaat memahami customer journey adalah:

  1. Memahami kebutuhan pelanggan
  2. Menemukan masalah dalam proses penjualan
  3. Meningkatkan customer experience
  4. Meningkatkan conversion rate
  5. Meningkatkan customer retention
  6. Meningkatkan pembelian ulang
  7. Meningkatkan peluang referral
  8. Membantu menentukan strategi digital marketing

Customer journey juga dapat membantu bisnis menemukan bagian mana yang menyebabkan calon pelanggan berhenti sebelum melakukan pembelian.

Tahapan Customer Journey

Secara umum, tahapan customer journey dapat dibagi menjadi lima tahap utama:

Awareness → Consideration → Conversion → Retention → Advocacy

Masing-masing tahap memiliki kebutuhan dan strategi yang berbeda.

1. Awareness, Pelanggan Mengenal Brand

Awareness merupakan tahap pertama dalam customer journey.

Pada tahap ini, calon pelanggan mulai mengetahui keberadaan sebuah brand. Mereka mungkin belum berniat membeli, tetapi mulai menyadari bahwa produk atau jasa tersebut tersedia.

Contohnya, seseorang sedang mencari informasi tentang digital marketing kemudian menemukan konten sebuah digital agency di Instagram.

Pada tahap awareness, tujuan utama bisnis adalah mendapatkan perhatian dan membangun brand awareness.

Channel yang dapat digunakan antara lain:

  • Instagram
  • TikTok
  • YouTube
  • Google Search
  • Website
  • Blog
  • SEO
  • Digital advertising
  • Seminar
  • Event

Jenis konten yang cocok pada tahap awareness antara lain:

  • Artikel edukasi
  • Tips
  • Infografis
  • Video pendek
  • Konten inspirasi
  • Tutorial
  • Konten problem awareness

Misalnya, daripada langsung menawarkan jasa SEO, sebuah agency dapat membuat artikel:

“Mengapa Website Bisnis Tidak Muncul di Google?”

Konten tersebut menjawab masalah yang mungkin sedang dialami target audience.

Jika Anda ingin memahami bagaimana SEO dapat digunakan untuk mendatangkan calon pelanggan, Anda dapat membaca artikel Apa Itu SEO dan Bagaimana Cara Kerjanya?.

2. Consideration, Pelanggan Mulai Mempertimbangkan

Setelah mengetahui sebuah brand, calon pelanggan mulai mencari informasi lebih banyak.

Mereka mulai bertanya:

“Apakah produk ini cocok untuk saya?”

Pada tahap ini, pelanggan biasanya melakukan riset dan membandingkan beberapa pilihan.

Misalnya seseorang membutuhkan jasa pembuatan website.

Ia mungkin mencari:

  • Harga jasa website
  • Portfolio
  • Review pelanggan
  • Fitur
  • Lama pengerjaan
  • Garansi
  • Kredibilitas perusahaan
  • Pengalaman agency

Karena itu, bisnis perlu menyediakan informasi yang dapat membangun kepercayaan. Konten yang cocok untuk tahap consideration antara lain:

  • Studi kasus
  • Portfolio
  • Testimonial
  • FAQ
  • Review
  • Perbandingan produk
  • Demo
  • Webinar
  • E-book
  • Konsultasi

Tujuan utamanya adalah menjawab keraguan pelanggan.

3. Conversion, Pelanggan Melakukan Pembelian

Conversion adalah tahap ketika calon pelanggan akhirnya mengambil keputusan untuk membeli. Namun, keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh produk. Proses pembelian juga harus dibuat mudah.

Beberapa pertanyaan yang perlu diperhatikan:

  • Apakah harga mudah ditemukan?
  • Apakah informasi produk jelas?
  • Apakah customer service cepat merespons?
  • Apakah proses pemesanan mudah?
  • Apakah tersedia metode pembayaran yang sesuai?
  • Apakah pelanggan merasa aman?
  • Apakah terdapat informasi kontak yang jelas?

Semakin banyak hambatan dalam proses pembelian, semakin besar kemungkinan calon pelanggan meninggalkan proses tersebut.

Contoh alur conversion sederhana:

Konten → Website → Landing Page → WhatsApp → Konsultasi → Penawaran → Pembayaran

Jika bisnis menggunakan WhatsApp sebagai channel penjualan, sistem CRM dan follow-up otomatis dapat membantu memastikan prospek tidak terlewat.

Baca juga: Cara Meningkatkan Penjualan dengan Follow-Up Otomatis.

4. Retention, Mempertahankan Pelanggan

Customer journey tidak berakhir setelah pelanggan melakukan pembelian.

Tahap berikutnya adalah retention, yaitu bagaimana bisnis mempertahankan pelanggan agar tetap menggunakan produk atau jasa.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan:

  • Onboarding pelanggan
  • Customer support
  • Follow-up
  • Tutorial penggunaan
  • Email marketing
  • WhatsApp marketing
  • Loyalty program
  • Maintenance
  • Customer education
  • Survei kepuasan

Misalnya sebuah digital agency mendapatkan klien baru. Agency tidak cukup hanya menjalankan campaign. Mereka juga perlu memberikan laporan, melakukan evaluasi, menjelaskan hasil campaign, dan memberikan rekomendasi strategi berikutnya. Pengalaman positif tersebut dapat meningkatkan kemungkinan pelanggan memperpanjang kerja sama.

5. Advocacy: Pelanggan Menjadi Promotor

Tahap terakhir dalam customer journey adalah advocacy. Pada tahap ini, pelanggan tidak hanya membeli produk tetapi juga bersedia merekomendasikan brand kepada orang lain.

Contohnya:

  • Memberikan review
  • Memberikan rating
  • Membuat testimonial
  • Membagikan pengalaman di media sosial
  • Merekomendasikan kepada teman
  • Mengajak rekan bisnis
  • Menggunakan referral program

Inilah kondisi yang sangat diinginkan bisnis:

Customer → Loyal Customer → Brand Advocate

Pelanggan yang puas dapat menjadi salah satu sumber marketing yang sangat efektif karena rekomendasi berasal dari pengalaman nyata.

Customer Journey vs Sales Funnel

Customer journey sering dianggap sama dengan sales funnel, padahal keduanya memiliki perspektif yang berbeda. Sales funnel lebih berfokus pada proses bisnis dalam mengubah calon pelanggan menjadi pembeli. Sementara customer journey melihat perjalanan dan pengalaman pelanggan secara lebih menyeluruh.

Contoh sales funnel:

Awareness → Interest → Consideration → Conversion

Sedangkan customer journey dapat mencakup:

Awareness → Consideration → Purchase → Experience → Retention → Advocacy

Perbedaannya terletak pada sudut pandang.

Sales funnel lebih berorientasi pada proses penjualan, sedangkan customer journey lebih berorientasi pada pengalaman pelanggan.

Apa Itu Customer Journey Map?

Customer journey map adalah visualisasi perjalanan pelanggan ketika berinteraksi dengan sebuah brand.

Customer journey map membantu perusahaan memahami apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan pelanggan pada setiap tahap.

Biasanya customer journey map terdiri dari beberapa elemen utama.

1. Customer Persona

Tentukan siapa pelanggan yang sedang dianalisis.

Contoh:

Pemilik UMKM usia 30–45 tahun yang ingin meningkatkan penjualan melalui digital marketing.

2. Customer Goal

Tentukan apa yang ingin dicapai pelanggan.

Misalnya:

Mendapatkan lebih banyak pelanggan melalui Instagram dan Google.

3. Customer Stage

Tentukan tahapan customer journey:

Awareness → Consideration → Purchase → Retention → Advocacy

4. Touchpoint

Identifikasi seluruh titik interaksi pelanggan dengan brand.

Contohnya:

  • Google
  • Instagram
  • TikTok
  • Website
  • WhatsApp
  • Sales
  • Customer service
  • Email

5. Customer Pain Point

Identifikasi masalah yang dialami pelanggan.

Contohnya:

  • Informasi tidak lengkap
  • Harga tidak jelas
  • Sulit menghubungi customer service
  • Respon terlalu lama
  • Proses pembelian rumit
  • Tidak mendapatkan follow-up

6. Customer Emotion

Identifikasi emosi pelanggan pada setiap tahap.

Contohnya:

  • Awareness: penasaran
  • Consideration: tertarik tetapi ragu
  • Purchase: berharap
  • After-sales: puas atau kecewa
  • Advocacy: percaya dan merekomendasikan

Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat menentukan bagian mana dari customer journey yang perlu diperbaiki.

Contoh Customer Journey

Berikut contoh sederhana customer journey untuk digital agency:

Tahap Perilaku Pelanggan Touchpoint Kebutuhan
Awareness Melihat konten Instagram/TikTok Informasi
Consideration Mengunjungi website Website Kredibilitas
Evaluation Membandingkan agency Portfolio/Review Bukti
Conversion Menghubungi sales WhatsApp Solusi
Purchase Membeli jasa Proposal/Invoice Kemudahan
Retention Menggunakan jasa Customer service Hasil
Advocacy Memberikan rekomendasi Testimonial/Referral Pengalaman positif

Dari customer journey tersebut, bisnis dapat melihat bahwa marketing tidak berhenti pada iklan.

Marketing, sales, customer service, dan operasional merupakan bagian dari perjalanan pelanggan yang saling terhubung.

Cara Membuat Customer Journey Map

Berikut langkah-langkah membuat customer journey map.

Langkah 1: Tentukan Customer Persona

Jangan membuat customer journey untuk semua orang.

Pilih satu segmen pelanggan terlebih dahulu.

Contoh:

Pemilik UMKM kuliner yang ingin meningkatkan penjualan melalui Instagram Ads.

Langkah 2: Tentukan Customer Goal

Cari tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai pelanggan.

Jangan hanya menulis:

“Ingin membeli jasa iklan.”

Tetapi gali tujuan sebenarnya:

“Ingin mendapatkan lebih banyak pelanggan dengan biaya iklan yang efisien.”

Langkah 3: Identifikasi Touchpoint

Catat seluruh titik interaksi pelanggan dengan bisnis.

Contoh:

Google → Instagram → Website → WhatsApp → Sales → Pembayaran → Customer Service

Langkah 4: Identifikasi Pain Point

Cari tahu apa yang membuat pelanggan mengalami kesulitan.

Contohnya:

  • Sulit menemukan informasi
  • Tidak yakin dengan kredibilitas bisnis
  • Harga tidak transparan
  • Respon terlalu lama
  • Proses pembayaran rumit
  • Tidak mendapatkan follow-up

Langkah 5: Tentukan Solusi

Setelah mengetahui masalah, tentukan solusi.

Contoh:

Masalah: Pelanggan bingung memilih paket.

Solusi: Buat tabel perbandingan paket.

Masalah: Calon pelanggan tidak percaya.

Solusi: Tampilkan portfolio, studi kasus, dan testimonial.

Masalah: Prospek tidak segera ditindaklanjuti.

Solusi: Gunakan CRM dan automated follow-up.

Customer Journey dalam Digital Marketing

Customer journey sangat berkaitan dengan strategi digital marketing.

Setiap tahap membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Awareness

Tujuan: Mendapatkan perhatian.

Strategi:

  • SEO
  • Social media
  • Content marketing
  • Video
  • Digital advertising

Consideration

Tujuan: Membangun kepercayaan.

Strategi:

  • Studi kasus
  • Testimonial
  • Portfolio
  • Webinar
  • E-book
  • Comparison content

Conversion

Tujuan : Menghasilkan transaksi.

Strategi:

  • Landing page
  • WhatsApp
  • Sales consultation
  • Promo
  • Free trial
  • Demo

Retention

Tujuan: Mempertahankan pelanggan.

Strategi:

  • Email marketing
  • WhatsApp follow-up
  • Customer service
  • Loyalty program
  • Customer education

Advocacy

Tujuan: Menghasilkan pelanggan dari rekomendasi.

Strategi:

  • Referral program
  • Testimonial
  • Review
  • User-generated content
  • Referral campaign

Cara Mengoptimalkan Customer Journey

Setelah customer journey dibuat, langkah berikutnya adalah mengoptimalkannya.

1. Buat Konten Berdasarkan Tahapan Customer Journey

Jangan membuat semua konten dalam bentuk promosi.

Gunakan komposisi konten berdasarkan kebutuhan pelanggan.

  • Awareness → Edukasi
  • Consideration → Bukti dan solusi
  • Conversion → Penawaran
  • Retention → Edukasi dan layanan
  • Advocacy → Testimonial dan referral

Strategi ini membuat konten menjadi lebih relevan dengan posisi pelanggan.

2. Gunakan CRM

CRM dapat membantu bisnis mencatat dan mengelola perjalanan prospek dan pelanggan.

Data yang dapat dicatat antara lain:

  • Nama
  • Kontak
  • Sumber lead
  • Produk yang diminati
  • Status prospek
  • Riwayat komunikasi
  • Riwayat pembelian
  • Jadwal follow-up

Dengan CRM, perusahaan dapat mengurangi risiko prospek terlupakan.

3. Automatisasi Follow-Up

Tidak semua follow-up harus dilakukan secara manual.

Bisnis dapat menggunakan automation untuk:

  • Mengirim pesan setelah inquiry
  • Mengingatkan prospek
  • Mengirim informasi produk
  • Mengirim reminder
  • Meminta feedback
  • Menawarkan produk lanjutan

Automatisasi membantu perusahaan menjaga komunikasi tanpa harus melakukan seluruh proses secara manual.

4. Personalisasi Komunikasi

Pelanggan akan merasa lebih diperhatikan ketika komunikasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

Contohnya, daripada mengirim:

“Halo, ada promo terbaru nih!”

Lebih baik:

“Bapak/Ibu kemarin tertarik dengan paket website untuk UMKM. Kami memiliki opsi paket yang lebih sesuai untuk bisnis yang baru mulai. Apakah ingin kami kirimkan detailnya?”

Pesan tersebut lebih relevan karena berdasarkan riwayat interaksi pelanggan.

Kesalahan dalam Mengelola Customer Journey

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan bisnis antara lain:

1. Hanya Fokus Mendapatkan Lead

Bisnis menghabiskan anggaran untuk mendapatkan leads, tetapi tidak memiliki sistem follow-up yang baik.

Akibatnya, banyak prospek hilang.

2. Tidak Memahami Customer Pain Point

Bisnis terlalu banyak berbicara mengenai produknya sendiri.

Padahal pelanggan lebih tertarik pada pertanyaan:

“Apa manfaat produk ini bagi saya?”

3. Proses Pembelian Terlalu Rumit

Semakin banyak langkah yang harus dilakukan pelanggan, semakin besar kemungkinan mereka berhenti.

4. Tidak Melakukan Follow-Up

Tidak semua pelanggan siap membeli pada interaksi pertama.

Karena itu, follow-up menjadi bagian penting dari customer journey.

5. Mengabaikan Pelanggan Lama

Pelanggan lama merupakan aset penting karena mereka sudah memiliki pengalaman dan kepercayaan terhadap brand.

6. Tidak Mengukur Customer Experience

Bisnis perlu mengukur pengalaman pelanggan menggunakan beberapa indikator seperti:

  • Customer Satisfaction Score (CSAT)
  • Net Promoter Score (NPS)
  • Customer Effort Score (CES)
  • Repeat Purchase Rate
  • Customer Retention Rate
  • Churn Rate

Bagaimana Customer Journey Meningkatkan Penjualan?

Customer journey membantu bisnis menemukan bottleneck dalam proses penjualan.

Misalnya sebuah website mendapatkan 1.000 pengunjung, tetapi hanya 20 orang yang menghubungi WhatsApp.

Hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan masalah pada tahap consideration atau conversion.

Contoh lainnya:

Bisnis mendapatkan 100 leads, tetapi hanya 5 orang yang membeli.

Masalahnya dapat berasal dari:

  • Kualitas leads
  • Penawaran
  • Harga
  • Sales
  • Follow-up
  • Trust
  • Customer experience

Dengan customer journey, bisnis tidak hanya bertanya:

“Berapa banyak pelanggan yang membeli?”

Tetapi juga:

“Mengapa calon pelanggan tidak membeli?”

Pertanyaan tersebut membantu perusahaan menemukan masalah yang sebenarnya terjadi dalam proses pemasaran dan penjualan.


Customer Journey dan Strategi Bisnis

Customer journey sebaiknya tidak hanya menjadi tanggung jawab tim marketing.

Perjalanan pelanggan melibatkan berbagai bagian perusahaan.

Marketing bertugas menarik perhatian.

Sales membantu pelanggan mengambil keputusan.

Customer service membantu memberikan pengalaman setelah pembelian.

Operational team memastikan produk atau jasa diberikan sesuai janji.

Management memastikan seluruh proses berjalan secara konsisten.

Dengan demikian, customer journey merupakan tanggung jawab bersama.


Kesimpulan

Customer journey adalah perjalanan pelanggan sejak pertama kali mengenal brand hingga melakukan pembelian, menggunakan produk, menjadi pelanggan loyal, dan merekomendasikan brand kepada orang lain.

Tahapan customer journey secara umum terdiri dari:

Awareness → Consideration → Conversion → Retention → Advocacy

Setiap tahapan membutuhkan strategi yang berbeda.

Pada tahap awareness, bisnis perlu membangun perhatian. Pada consideration, bisnis perlu membangun kepercayaan. Pada conversion, proses pembelian harus dibuat mudah. Setelah pembelian, bisnis perlu mempertahankan pelanggan melalui pelayanan yang baik. Jika pengalaman pelanggan sangat positif, pelanggan dapat berkembang menjadi brand advocate.

Karena itu, bisnis yang ingin meningkatkan penjualan tidak cukup hanya bertanya:

“Bagaimana cara mendapatkan lebih banyak pelanggan?”

Tetapi juga harus bertanya:

“Bagaimana membuat perjalanan pelanggan menjadi lebih mudah, nyaman, dan meyakinkan?”

Ketika setiap tahap customer journey dirancang dengan baik, strategi marketing menjadi lebih terarah, proses sales menjadi lebih efektif, customer experience meningkat, dan peluang terjadinya pembelian ulang serta referral menjadi semakin besar.

Pada akhirnya, customer journey bukan sekadar alat untuk memahami pelanggan, tetapi merupakan fondasi untuk membangun pengalaman pelanggan yang menghasilkan penjualan dan loyalitas jangka panjang.


FAQ tentang Customer Journey

Apa yang dimaksud dengan customer journey?

Customer journey adalah seluruh perjalanan dan pengalaman pelanggan ketika berinteraksi dengan sebuah brand, mulai dari mengenal brand hingga membeli, menggunakan produk, menjadi loyal, dan merekomendasikannya.

Apa saja tahapan customer journey?

Tahapan customer journey umumnya terdiri dari Awareness, Consideration, Conversion, Retention, dan Advocacy.

Apa perbedaan customer journey dan sales funnel?

Sales funnel berfokus pada proses mengubah calon pelanggan menjadi pembeli, sedangkan customer journey berfokus pada pengalaman pelanggan secara keseluruhan sebelum, saat, dan setelah pembelian.

Apa itu customer journey map?

Customer journey map adalah visualisasi perjalanan pelanggan yang menunjukkan tahapan, touchpoint, kebutuhan, pain point, serta emosi pelanggan ketika berinteraksi dengan brand.

Mengapa customer journey penting dalam digital marketing?

Customer journey membantu bisnis menentukan strategi marketing berdasarkan posisi dan kebutuhan pelanggan sehingga konten, iklan, sales, dan follow-up dapat menjadi lebih relevan.

Bagaimana cara membuat customer journey?

Cara membuat customer journey dimulai dengan menentukan customer persona, customer goal, tahapan perjalanan, touchpoint, pain point, customer emotion, kemudian menentukan solusi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Scroll to Top